Translator

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Pages

Saturday, April 27, 2013

Laporan Praktikum Biologi Perikanan Hubungan Panjang Berat Ikan Tongkol

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Perairan laut Indonesia mempunyai sumberdaya hayati dengan potensi yang cukup besar untuk dimanfaatkan. Sumberdaya hayati laut terutama yang berupa ikan merupakan sumber pangan utama kedua setelah pertanian di darat. Pieris (1988) menyatakan bahwa ikan merupakan salah satu hasil laut utama dan selama ini menjadi sumber protein penting bagi rakyat. Dibandingkan dengan daging dan susu, ikan merupkan sumber protein yang lebih baik untuk kesehatan (kadar kolesterol rendah) selain relatif murah harganya.
Setiap usaha pemanfaatan sumberdaya perikanan perlu memperhatikan kelangsungan sumberdaya, stok dan populasi ikan. Kajian tentang biologi perikanan baik tentang potensi reproduksi, karakteristik panjang berat, kebiasaan makanan dan habitat yang bersangkutan. Dwiponggo (1978) menyatakan bahwa dalam pemanfaatan sumberdaya perikanan harus didasarkan pada prinsip pengusahaan secara rasional dengan tetap menjaga kelestarian sumberdaya dan lingkungan.
Ilmu Biologi Perikanan  merupakan mata kuliah lanjutan dari Ikhtiologi yang sebelumnya lebih menjelaskan tentang ciri-ciri ikan, sistem organ, sistem saraf, peredaran darah dll. Sedangkan matakuliah Biologi perikanan lebih mempelajari teknik-teknik yang digunakan untuk penelitian mahasiswa. Salah satunya berkaitan dengan hubungan  panjang dan berat. Panjang tubuh sangat berhubungan dengan panjang dan berat seperi hukum kubik yaitu bahwa berat sebagai pangkat tiga dari panjangnya. Namun, hubungan yang terdapat pada ikan sebenarnya tidak demikian karena bentuk dan panjang ikan berbeda-beda.

1.2 Tujuan
Adapun tujuan dilakukan pratikum ini adalah agar mahasiswa megetahui hubungan panjang berat ikan serta bobot ikan dan mahasiswa dapat menganalisa data dengan menggunakan program SPSS atau Microsoft Excel.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Ikan memiliki bentuk dan ukuran tertentu dan berbeda antara ikan yang satu dengan yang lain. Hal ini menunjukkan bahwa ada spesifikasi tertentu pada karakteristik, bentuk dan ukuran tubuh ikan di alam. Analisa morfometri merupakan suatu  analisis atau pengamatan terhadap morfologi ikan tersebut sedangkan morfologi adalah ciri-ciri luar tubuh  ikan yang terlihat dan harus diamati yang meliputi: bentuk tubuh, warna, bentuk operculum, mengukur antar bagian tubuh ikan (Effendi, 2004).
Pertumbuhan adalah pertambahan ukuran, baik panjang maupun berat. Pertumbuhan dipengaruhi faktor genetik, hormon, dan lingkungan (zat hara). Ketiga faktor tersebut bekerja saling mempengaruhi, baik dalam arti saling menunjang maupun saling menghalangi untuk mengendalikan perkembangan ikan (Fujaya,1999).
Pengukuran berat dari berbagai penimbangan ikan yang paling tepat adalah dengan menggunakan timbangan duduk dan timbangan gantung, adapan keuntungan yang dimiliki dari kedua timbangan ini adalah bekerjanya lebih teliti, pengaruh dari luar seperti angin dapat dikurangi, serta pendugaan pertama terhadap berat ikan yang ditimbang tidak perlu dilakukan, karena secara langsung dapat menunjukkan beratnya (Abdul, 1985).
Di dalam ilmu biologi perikanan, hubungan panjang  berat ikan merupakan pengetahuan yang signifikan dipelajari, terutama untuk kepentingan pengelolaan perikanan. Pentingnya pengetahuan ini sehingga BAYLIFF ( 1966 ) menegaskan, hubungan panjang - berat ikan dan distribusi panjangnya perlu diketahui, terutama untuk mengkonversi statistik hasil tangkapan, menduga besarnya populasi dan laju - laju mortalitasnya.  Disamping itu diperlukan juga dalam mengatur perikanan, yaitu menentukan selektifitas alat tangkap agar  ikan - ikan yang tertangkap hanya yang berukuran layak tangkap (Vanichkul & Hongskul dalam Merta 1993 ). Hubungan panjang - berat ikan juga sangat penting artinya di dalam ilmu dinamika populasi, misalnya dalam menghitung hasil tangkapan per rekrut ( yield per recruit, Y/R ) dan biomasanya (biomass per recruit, B/R ) (Manik, 2009).  

BAB III
METODELOGI
3.1 Waktu dan Tempat
Pratikum biologi perikanan dilakukan pada hari sabtu tanggal 25 Maret 2013, pukul 08:00-10:00 WIB. Adapun tempat praktikum di laboratorium Perikanan Fakultas Kelautan dan Perikanan, Universitas Syiah Kuala.

3.2 Alat dan Bahan
No
Alat dan Bahan
Jumlah
1
2
3
4
5
6
7
8
Ikan Tongkol
Nampan
Timbangan
Mistar
Alat Tulis
Tissue
Laptop
Sarung Tangan
25 ekor
3 unit
1 unit
4 unit
Seperlunya
Seperlunya
4 unit
4 pasang

3.3 Cara Kerja
3.3.1 Cara Kerja Pengukuran Panjang Berat
•          Disediakan sampel ikan Tongkol sebanyak 25  ekor.
•           Diletakkan di atas nampan untuk di amati.
•           Diukur panjang total (TL) ikan satu per satu menggunakan mistar dan di catat hasilnya.
•           Diukur berat ikan (W) ikan satu per satu menggunakan timbangan dan di catat hasilnya.
•           Dikonversikan data dari cm ke mm untuk memudahkan perhitungan.
•           Dianalisa data pengukuran yang diperoleh menggunakan Microsoft Office Excel.

3.3.2 Cara Kerja Analisa Data Perhitungan Panjang Berat (LWS)
·           Diambil data TL dan W dari keseluruhan data yang diukur.
·           Di ln kan data TL dan data W yang diperoleh.
·           Di blok data yg telah di ln kan, kemudian insert scatter, klik kanan sembarang di titik data pada chart, kemudian dipilih add trendline pilih equation on chat & display R square value on chat.
·           Dihitung nilai a dan b untuk  menghitung Ws (berat prediksi),
b = y, a = EXP dari –y angka yang ke dua.
·           Dihitung nilai residual dari ln Ws di kurang ln W.
·           Dihitung nilai varian residual.
·           Dihitung nilai bias correction.
·           Dihitung nilai faktor kondisi Fulton (K) sesuai dengan persamaan Okgerman (2005).
·           Dihitung nilai faktor kondisi berat relatif (Wr) sesuai dengan persamaan Rypel dan Richter (2008).
·           Di insert scatter utuk melihat perbandingan hasil pengukuran dan prediksi.



BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Data Hasil Pengamatan
Data hasil pengamatan terlampir.

            4.2 Pembahasan
Pada Praktikum ini hanya dilakukan pengolahan data untuk mengetahui hubungan panjang berat dan faktor kondisi ikan. Sehingga data yang dipakai hanya Panjang Total (TL) dan berat ikan (W) yang mana data hasil pengukuran tersebut sudah dikonversikan dari cm ke mm tujuannya agar data lebih akurat dan biasa dilakukan untuk penelitian. Kemudian nilai TL dan W di ubah menjadi LnTL dan LnW tujuannya untuk mendapatkan nilai a dan b yang diperoleh dari grafik (lampiran) dari total LnTL dan LnW dan digunakan untuk mengukur berat prediksi (Ws) dengan persamaan:
Ws = a x Lb
Nilai a merupakan intercept regresi linear dan b adalah koefisien regression yang mana mencerminkan pola pertumbuhan ikan seperti nilai b yang diperoleh pada saat praktikum adalah 2.7946 yang tergolong dalam allometrik negatif atau pertambahan panjang lebih cepat berbanding pertambahan bobot tubuh.
Perbedaan ukuran berat dan panjang antara tiap ikan tersebut dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti yang telah dikemukakan oleh Fujaya (1999), dimana ada dua faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ikan yaitu faktor dalam dan faktor luar. Faktor dalam ini sulit untuk dilakukan pengontrolan, sedangkan faktor luar mudah untuk pengontrolannya.
Setelah mendapatkan berat prediksi dari keseluruhan ikan kemudian dihitung nilai residual dengan persamaan:
Residual = Ln(Ws) – Ln W
Dari nilai residual nantinya dihitung nilai varian residual digunakan  untuk mengetahui bias correction melalui persamaan:
Bias correction = Exp(0,5 x var residual) x Ws
Untuk mengetahui faktor kondisi maka dihitung Fulton Condition (K) dengan persamaan:
K = WL-3 x 100
Kondisi Fulton semakin tinggi nilainya semakin baik, dengan nilai rata-rata diperoleh 2.97. Adapun faktor kondisi berat relatif (Wr) digunakan persamaan:
Wr = (W/Ws) x 100
Yang mana nilai rata-rata yang diperoleh saat praktikum adalah 101.15, nilai ini menunjukkan bahwa perairan dimana populasi ikan tersebut hidup menyediakan cukup makanan atau jumlah/kepadatan predator rendah (Anderson dan Neumann,1996) atau pada kisaran 100 yang menunjukkan perairan masih dalam kaedaan seimbang (Muchlisin et al., 2009)
Adapun yang termasuk faktor dalam tersebut adalah faktor keturunan, dimana faktor ini mungkin dapat dikontrol dalam suatu kultur, salah satunya dengan mengadakan seleksi yang baik bagi pertumbuhannya sebagai induk. Kemudian faktor jenis kelamin, kemugnkinan tercapainya keatangan gonad untk pertama kali cenderung mempengaruhi pertumbuhan, yang menjadi lambat karena sebagian makanan tertuju pada perkembangan gonad tersebut.
. Sedangkan yang termasuk faktor luar adalah makanan, dalam hal ini makanan adalah faktor yang paling penting karena dengan adanya makanan berlebih dapat menyebabkan pertumbuhan ikan menjadi lebih pesat. Faktor luar lainnya yang mempengaruhi yaitu kualitas air, misalnya suhu, oksigen terlarut dan karbondioksida.





BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Adapun yang dapat disimpulkan setelah melakukan pratikum adalah sebagai berikut :
1.     Nilai b yang didapatkan adalah b =2.7946 artinya pola pertumbuhan ikan bersifat allometrik negatif, yaitu pertambahan panjang lebih cepat berbanding pertambahan bobot.
2.      Nilai Wr dalam kisaran 100 menunjukkan bahwa keadaan perairan masih dalam keadaan seimbang.
3.      Nilai Faktor Kondisi Folton (K) diperoleh 2.97 semakin tinggi semakin baik.
5.2 Saran
Praktikum Biologi Perikanan kedepan diharapkan dapat dilakukan tepat waktu agar praktikum lebih efisien dan lancar. Terima kasih!













No comments:

Post a Comment